Organ Tunggal, Sebuah Pembodohan?












Organ Tunggal, Sebuah Pembodohan?

DUA dekade belakangan terjadi tren organ tunggal di masyarakat kita. Sebagai sarana hiburan murah meriah, organ tunggal praktis menjadi pilihan paling diminati.

Hampir setiap hajatan, baik perseorangan maupun institusi tak lepas dari hiburan organ tunggal. Musisi dan penyanyi baru pun banyak bermunculan bagaikan jamur di musim hujan, mengais sawer hasil "goyangannya". Di sini saya akan mencoba sedikit membahas perihal organ tunggal, teknologi dan dampaknya.


Banyak orang membahasainggriskan kata "organ" dengan sebutan orjen, padahal berasal dari bahasa Jerman, jadi penyebutannya adalah orgen. Sebenarnya penggunaan istilah organ tunggal sendiri salah kaprah. Tentu kita mengetahui, organ adalah salah satu nama alat musik tiup. Untuk menghasilkan bunyi organ, kita harus memompanya terlebih dahulu melalui pipa. Dorongan udara itu menghasilkan nada. Tinggi rendah nada bergantung pada volume ruangan beserta resonansinya.

Adapun pemilihan resonatornya dilakukan dengan cara menekan tuts pada keyboard (papan kunci, warnanya hitam dan putih menyerupai piano). Kala itu, satu-satunya teknologi yang sudah dikenal lain dengan mendayagunakan pegas sebagai penyimpan tenaga pemompa. Dapat dibayangkan betapa alat musik ini sangat rumit konstruksinya, juga mahal harganya. Namun ada pula yang lebih "modern". Saya pernah menjumpai organ yang lumayan mudah dimainkan yakni di SMA (dulu SPG) Vanlith Muntilan, Magelang. Caranya kita mengayuh seperti menjalankan mesin jahit.

Mula-mula organ banyak digunakan oleh kalangan gereja untuk mengurungi lagu-lagu rokhani dalam liturgi ibadah. Sejarah membuktikan, gereja memiliki peranan penting dalam perkembangan musik dunia.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, akhirnya manusia mampu menciptakan suara tiruan (sintesizer) berbagai alat musik yang terkemas dalam keyboard, sumber tenaganya listrik dengan sistem digital. Dengan keyboard, orang dimudahkan dalam pementasan musik, karena di situ tersedia berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus jenis suara (voice, tone) alat musik yang dikelompokkan dalam rumpun-rumpun tertentu.

Untuk menghasilkan suara piano, kita tidak perlu bersusah payah mengusung piano yang beratnya sekitar 400 kilogram itu. String secsion yang yang seharusnya dimainkan oleh 20 pemain biola dan 5 orang penggesek cello pun dapat kita tampilkan suaranya, nyaris sempurna. Begitu pula brass secsion (terompet, trombon, saxofon, oboe, klarinet, tuba dan lain-lain).

Karena sangat praktis, ringkas, dan mudah dibawa, alat musik listrik itu konon oleh Yamaha dinamakan portasound (akronim dari kata portable sound). Sedangkan Roland menamai electone (electric tone). Jadi pementasan musik seorang diri dengan menggunakan electone atau portasound bukanlah disebut organ tunggal, melainkan keyboard tunggal atau solo keyboard.

Perkembangan selanjutnya, ditemukanlah teknologi patern, di mana dalam sebuah keyboard tak cuma menyimpan tiruan suara alat musik saja, namun juga irama (style) tertentu misal 8 Beat, Slowrock, Jazz, Rock'n Roll, dan lain-lain. Dengan penemuan baru itu kita semakin dimudahkan dalam bermusik. Musisi dapat bermain selayaknya sebuah grup. Caranya mudah, setelah memilih irama dan suara yang kita inginkan, tangan kiri digunakan untuk menjalankan chord, sedangkan tangan kanan untuk memainkan melodi intro, bagian-bagian lagu, interlude, ending, bahkan ornamen-ornamen penghias lagu.

Kelemahan teknologi ini adalah terasa monotonnya irama yang ditampilkan. Itu lebih disebabkan oleh pendeknya penggunaan birama dalam pembuatan irama dasar(basic style). Maklumlah, bila sebuah irama hanya terbentuk oleh dua atau empat birama, maka jadinya pengulangan suara yang begitu cepat. Kelemahan lainnya, musisi kurang bebas mengekspresikan lagu melalui chord-chord yang akan dimainkan. Keterbatasan itu mengakibatkan sering berubahnya aransemen lagu. Misal, jika kita ingin memainkan chord A Mayor dengan variasi pembalikan bass pada nada C#, maka bagi musisi yang kurang mahir mengkamulflase permainan, hal itu tak mungkin dapat dilakukan dengan organ tunggal. Padahal setiap merek alat musik memiliki karakter yang saling berbeda dengan merek lain. Oleh karenanya, sorang musisi perlu memahami karakter alat musik. Kelebihan pada teknologi patern, kita dapat menciptakan sendiri program irama yang belum ada di dalamnya misal dangdut, keroncong, sunda, atau sekadar modifikasi internal style yang sudah tersedia.

Belakangan, kemunculan tipe-tipe baru memberikan keleluasaan bagi programer untuk menciptakan user style-nya. Keleluasaan itu lain tersedianya jumlah patern birama dalam jumlah ratusan. Selain itu kita dapat mengatur nilai ketukan, untuk mengatasi ketidaktepatan pada waktu pemrograman. Fasilitas semacam itu dapat kita jumpai pada merek Roland atau Korg. Ada pula keyboard yang menonjolkan dalam hal keunggulan mixing, seperti pada merek Yamaha dan Technic. Namun, di Yamaha, untuk awal peluncuran fitur programnya hanya menyediakan maksimal 8 birama saja, jadi programer tidak dapat leluasa mengaransemen. Namun keunggulannya ada pada kemanisan internal style dan naturalitas warna suara (timbre). Untuk memainkan lagu-lagu nyemek, bermainlah dengan Yamaha.

Saya mengelompokan pemrograman ini menjadi dua jenis, yakni basic user style dan auto play user style. Untuk jenis pertama, programer kebanyakan hanya memanfaatkan dua sampai delapan birama saja. Ia hanya melakukan pendekatan dari irama aslinya. Seseorang yang bermain musik dengan basic user style dipastikan masih akan kentara improvisasinya. Untuk jenis kedua, auto play user style, programer memaksimalkan penggunaan birama yang tersedia. Mulai dari intro, bagian-bagian lagu, interlude sampai ending akan dimiripkan sesuai aslinya di kaset atau CD. Nah, jika sudah selesai maka pemain hanya cukup menekan tombol-tombol (tombol intro, basic/advance, original/variasi, fill in dan ending) agar aransemen yang telah diprogramnya dapat berjalan, tentu dengan menyesuaikan nada dasar, tanpa harus berfikir masalah chord. Yang terpenting memahami urutan lagunya saja. Mudah bukan?

Dampak negatif dari keleluasaan pemrograman adalah musisi merasa ketergantungan terhadap user style. Ibarat orang buta, bila tongkatnya dicuri, orang itu akan geragapan berjalannya. Seseorang yang sudah terbiasa bermain musik 'bersenjatakan' disket program, manakala disketnya eror, ketinggalan atau hilang, ia akan menyerah. Itu kebanyakan terjadi pada musisi-musisi dangdut yang tidak mengenal improvisasi. Di sini saya tidak bermaksud memarginalkan musisi dangdut, tapi ini sebuah kenyataan. Saya sendiri pun kalau disuruh memainkan irama dangdut dengan basic user style tidak mungkin bisa sempurna.

Apakah permainan kita dapat direkam? Tentu dapat. Keyboard masa kini memungkinkan untuk itu. Hasil rekamannya berbentuk Midi file (bila kita lihat di komputer berekstensi *.mid). Bahkan semua merek dan tipe, kini sudah memberlakukan persamaan sistem baca file yang dikenal dengan istilah General Midi (GM). Fasilitas ini memudahkan kita memutar ulang file midi hasil rekaman terdahulu. Sebagai contoh, merek Yamaha akan dapat membaca file yang kita bikin di Roland atau Korg dan sebaliknya.

GM sangat efektif dan efesien bila digunakan untuk pelatihan kursus yang memanfaatkan modul pengajaran. Pelatih tidak perlu bersusah payah memberi contoh berulang kali, tinggal memperdengarkan lewat midi file. Namun sangat disayangkan, bila seorang musisi bermain musik hanya memutar file midi. Ia tidak dapat dikatakan bermain musik, karena pada kenyataannya lagu itu telah berjalan dengan sendirinya. Salah sorang teman saya bahkan ada yang berseloroh, musisi semacam itu pantas disebut operator, midi player atau song player.

Jadi bila demikian keadaannya, apakah teknologi baru keyboard tunggal tidak lebih dari sebuah pembodohan? Semuanya bergantung pada musisi. Jika musisi terbuai oleh canggihnya teknologi itu, tak dapat dihindari lagi, ia akan menjadi robot auto play user style. Namun kebalikannya, bila ia memanfaatkan teknologi sebagai pendukung, maka musikalitas yang dimilikinya akan terus berkembang.

-----------------
dikutip from:
*Joshua Igho, musisi di Karlita International Hotel, Kota Tegal, Jawa Tengah
Read more

Filsafat ilmu
























Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu[1]. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
* 1 Konsep dan pernyataan ilmiah
1.1 Empirisme
1.2 Falsifiabilitas
Catatan kaki [sunting] Konsep dan pernyataan ilmiah Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat.
[sunting] Empirisme Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
[sunting] Falsifiabilitas Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh Karl Popper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut memang benar.

*berbagai sumber
Read more

Kata-kata Bijak Eistein Tentang Kehidupan


“Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita. Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban. Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban.”

“Usaha pencarian kebenaran dan keindahan merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat.”

“Gravitasi tidak bertanggung-jawab atas orang yang jatuh cinta.”

“Kebahagiaan dalam melihat dan memahami merupakan anugerah terindah alam.”

“Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan. Ada suatu lompatan dalam kesadaran, sebutlah itu intuisi atau apapun namanya, solusinya muncul begitu saja dan kita tidak tahu bagaimana atau mengapa.”

“Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini adalah pajak penghasilan.”

“Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang didapat sejak usia 18 tahun.” “Hanya sedikit yang melihat dengan matanya sendiri dan merasakan dengan batinnya sendiri.”

“Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru.”

“Jika A sama dengan kesuksesan, maka rumusnya adalah A=X+Y+Z. X adalah kerja, Y adalah bermain, Z adalah menjaga mulut agar tetap bungkam.”

“Satu-satunya alasan adanya waktu adalah supaya segala sesuatu tidak terjadi pada saat yang bersamaan.”

“Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang.”

“Nilai manusia yang sesungguhnya pada dasarnya ditentukan oleh ukuran dan rasa yang telah mencapai pembebasan dari dirinya sendiri.”

“Bagaimana mungkin engkau menjelaskan fenomena biologis yang sedemikian penting seperti cinta pertama dalam pengertian kimia dan fisika ?”

“Seseorang baru memulai hidup jika dia bisa hidup di luar dirinya sendiri.”

“Misteri abadi dunia adalah keterpahamannya.”

“Segala sesuatu hendaknya dibuat sesederhana mungkin, tapi bukan menjadi lebih sederhana.”

*dari berbagai sumber
Read more

Dimana Letak Kebahagiaan?


Semua orang mendambakan kebahagiaan, mulai dari seorang filosof dengan pemikirannya yang tinggi sampai orang bodoh dengan kesederhanaannya.
Sang Raja di istananya maupun petani di gubuknya, sama-sama tidak menghendaki kecemasan dan kegelisahan.
Yang menjadi pertanyaan sejak dulu sampai sekarang adalah 'di manakah' kebahagiaan itu?

Kebanyakan manusia mencarinya bukan pada sumbernya sehingga mereka pulang dengan tangan hampa, lelah sedih dan putus asa. Dalam berbagai zaman manusia telah mencoba mencari kebahagiaan itu pada kekayaan materi dan berbagai ragam pemenuhan kebutuhan inderanya, tetapi ternyata tidak
ditemukan juga sebab setiap kali terpenuhi satu kebutuhan akan selalu muncul kebutuhan baru.

HARTA.
Sebagian manusia menduga bahwa kebahagiaan itu pada kekayaan harta dan terpenuhinya kesejahteraan hidup. Nyatanya di negara-negara yang maju ekonominya dan dapat memenuhi sarana kehidupan mulai dari makanan,minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan fasilitas-fasilitas
lainnya, rakyatnya tetap tidak bahagia dan mencari kebahagiaan dengan cara lain.

Dalam sebuah survey di Amerika, terungkap bahwa harta merupakan penyebab terjadinya kejahatan-kejahatan utama di negara super-power ini. Penyebab lain adalah kebencian, kecemburuan, dan seks. Survey yang dilakukan oleh suatu tim terhadap sejumlah orang Amerika dari berbagai profesi ini
merupakan fenomena yang ada di negara maju, yang mungkin bukan hanya di Amerika.

Will Durant berpendapat: "Agama tidak dapat tumbuh subur pada saat di mana kemajuan material membumbung tinggi. Karena, ketika itu manusia biasanya membebaskan dirinya dari ikatan-ikatan keruhanian bahkan menciptakan falsafah dan pandangan hidup yang dijadikan dalih untuk menanggalkan
tuntunan-tuntunan agama."

Pendapat pakar yang berasal dari Barat dan hidup di Barat ini sesuai dengan gambaran al-Quran bahwa manusia yang dikendalikan oleh nafsu atau dikuasai oleh bayangan kemampuan material yang dimilikinya, akan bersikap sangat angkuh dan berlaku sewenang-wenang.
Mereka menduga bahwa kemampuannya akan mengekalkannya dan akhirnya mereka berpaling membelakangi Tuhannya.

Kini semakin disadari bahwa segala keserakahan manusia untuk menumpuk harta merupakan sebab timbulnya superioritas (rasa keunggulan) seseorang kepada yang lain. Dan sampai sekarang masih merupakan sebab timbulnya penderitaan dunia, seperti dibuktikan dari hasil survey di Amerika itu.

Kenyataan mengerikan yang lain dapat kita lihat di negara-negara maju,negeri yang hidup dalam kecukupan ekonomi luar biasa. Saking makmurnya sampai-sampai tidak ada kekhawatiran akan kemelaratan walaupun bagi orang-orang tua atau pengangguran sekalipun, karena negara telah menjamin setiap warga negaranya dengan jumlah yang cukup.

Namun demikian masyarakatnya hidup penuh keangkuhan, kebencian, gelisah, cemas, sedih, penuh keluhan dan keputusasaan. Akhirnya banyak yang lari dari kehidupan malang ini dengan cara bunuh diri dan cara lain sebagai upaya menyelamatkan diri dari penderitaan jiwa yang menyakitkan itu.

Jelaslah bahwa banyaknya harta bukanlah sumber kebahagiaan dan bukan pula asas utama untuk mewujudkannya. Bahkan boleh jadi hal itu menjadi malapetaka bagi pemiliknya di dunia sebelum menjadi malapetaka di akhirat kelak.
Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan penambahan kekayaan harta, tetapi kebebasan dari rasa takut terhadap penderitaan dan kecemasan lahir batin.

Ini tentu bukan berarti Islam melarang manusia untuk mendapatkan harta dan menilai harta benda sebagai sesuatu yang jelek dan harus dihindari.
Yang dikecam adalah perlombaan penumpukannya guna berbangga, berfoya-foya dan mengabaikan kelompok yang membutuhkannya.

Allah berfirman dalam surat At Taubah: 55, "Janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan harta benda dan anak-anak itu untuk
menyiksa mereka dalam kehidupan dunia."

Siksaan itu bisa berupa kesulitan, kepayahan, kesusahan, dan penderitaan.
Kenyataan pahit ini bisa kita jumpai pada setiap orang yang menjadikan harta dunia ini sebagai tujuan utamanya dan puncak cita-citanya. Ia akan selalu tersiksa hatinya, dan lelah jiwanya. Sedikitnya harta tidak akan mencukupinya, tetapi harta yang banyak juga tidak akan mengenyangkannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas, Nabi melukiskan jiwa yang menderita ini, "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya,maka Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya dan harta benda akan datang kepadanya serta tunduk kepadanya.
Dan barangsiapa yang menjadikan harta dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di kedua matanya dan mencerai-beraikan semuanya dan tidak akan memberinya harta
dunia selain apa-apa yang telah ditentukannya." (HR Turmudzi)

Ulama salaf pernah menyampaikan, barangsiapa mencintai dunia, maka dipersilakan mempersiapkan dirinya untuk menanggung musibah. Karena pecinta harta tidak akan terlepas dari tiga hal; susah berkepanjangan,lelah berkesinambungan, dan penyesalan tiada akhir.
Demikian itu karena setiap kali terpenuhi satu keinginan timbul keinginan baru, sebagaimana disampaikan Rasulullah, "Seandainya anak manusia itu memiliki dua lembah emas tentu ia akan menginginkan yang ketiga."


ANAK DAN JABATAN.
Setiap orang tua mencintai anak-anaknya. Tak satupun orangtua yang tidak menginginkan anak-anaknya hidup sukses kelak dikemudian hari. Sebab sebagian orang merasa anak bisa menghadirkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Memang anak merupakan bunga kehidupan tumpuan harapan, akan tetapi tidak sedikit anak-anak itu menyeret orang tuanya ke jurang kehancuran. Mereka bisa saja menyakiti dan mengingkarinya sebagai ganti kebaikan orang tuanya. Bahkan tidak sedikit orang tua yang menemui ajal di tangan anak
kandungnya.

Demikian halnya dengan jabatan. Manusia yang salah selalu mengejar jabatan dengan berbagai upaya, kalau perlu menghalalkan segala cara. Tidak sedikit orang yang demi mendapatkan jabatan berani melakukan hal-hal yang bertentangan dengan etika dan jalan agama. Bagi mereka kedudukan di atas
segala-galanya.

Ternyata setelah didapatkannya tidak pula dirasakan kebahagiaan dalam dirinya. Itulah sebabnya Islam melarang seseorang untuk berambisi atas sesuatu jabatan, karena jika jabatan dipegang oleh orang yang berambisi untuk mendudukinya, yang didapat hanyalah malapetaka.


DALAM DIRI MANUSIA.
Kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta kekayaan dan banyaknya anak, tidak pula pada jabatan dan materi lainnya.
Kebahagiaan adalah suatu nilai yang abstrak kasat mata, tidak dapat diukur dengan jumlah, tidak dapat disimpan di suatu tempat dan juga tidak dapat dibeli dengan rupiah, dollar maupun dinar.

Kebahagiaan adalah suatu yang dapat dirasakan oleh kejernihan jiwa,ketenangan hati, kelapangan dada, yang bersumber dari dalam diri manusiadan tidak didatangkan dari luar dirinya.

Dalam suatu kisah disebutkan, seorang suami yang sedang marah terhadap istrinya berkata seraya mengancam, "Aku akan membuatmu tidak bahagia!"
Dengan tenang istrinya menjawab, "Engkau tidak akan mampu membuatku
menderita sebagaimana engkau tidak dapat membuatku bahagia."
Sang suami
semakin marah, "Kenapa tidak bisa?"
Sahut istrinya penuh keyakinan, "Aku mendapatkan kebahagiaan pada imanku. Iman ada di hatiku dan tidak seorangpun dapat menguasai hatiku selain Allah swt pelindungku."

Itulah hakikat kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang tidak dapat diberikan oleh manusia dan tidak dapat dicabut oleh siapapun juga, adalah kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman dan mereka yang suka beramal shalih.

Seorang mukmin yang telah merasakan kelezatan ruhaniah yang memenuhi sisi-sisi jiwanya akan berkata, "Sungguh kudapatkan saat-saat bahagia yang membuatku berkata, 'Seandainya penghuni surga merasakan seperti yang aku rasakan sekarang sungguh mereka benar-benar hidup bahagia.'"

Orang-orang yang telah dianugerahi nikmat kebahagiaan oleh Allah swt akan menganggap kecil musibah yang menimpa dirinya betapapun besar dan beratnya.
Karena musibah itu akan dirasakan sebagai nikmat yang perlu disyukuri, sementara menurut orang lain merupakan malapetaka yang mengakibatkan keluhan dan penderitaan.

Rasulullah memberikan contoh yang sangat indah tentang suatu kebahagiaan.
"Jika Anda melahap suatu makanan, maka Anda merasakan kelezatan. Tetapi,jika Anda dengan suka-cita menyerahkan (walaupun sebagian)-nya, maka Anda merasakan kebahagiaan.".

diposting di catatan Facebook Wahida Husnur Rohmi (catatan) 24 Februari 2009
Read more

JANGAN MERASA PALING SHALEH


Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13)

Dua orang laki-laki bersaudara . Mereka sudah yatim piatu sejak remaja. Keduanya bekerja pada sebuah pabrik kecap .

Mereka hidup rukun , dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, jabatannya naik, dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki. Dia mendapatkan bonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, ” Dik, sesungguh ketidak mampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.. “

Sang adik Mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

“Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku,
Jadikan Kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu,
Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
didunia dan akhirat.”

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya.Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga karena kekayaan dan janganlah putus asa karena kemiskinan..



Cerita ini begitu menyentuh , semoga dapat menjadikan hikmah bagi kita semua ...



Sumber : Ispiring Stories II
@Cyber Halaqoh
Read more